B. TUJUAN Kegiatan TPAC ini bertujuan untuk : 1. Memberikan wadah dan ruang bagi penggalian kembali dan pengembangan budaya Jawa. 2. Sebagai ajang pertunjukan dan pementasan Budaya Jawa 3. Menggiatkan kecintaan kepada budaya Jawa dengan mengenalkan kepada generasi muda secara umum dan secara khusus kepada kalangan akademisi.
Rabu, 29 September 2010
PERFORMANCE SASTRA
Performance sastra dalam kegiatan TPAC ini akan melibatkan penyajian karya-karya sastra Jawa, seperti macapat dan geguritan. Melibatkann pula penyajian sastra Indonesia, seperti puisi. Juga melibatkan penyajian karya sastra Barat, sastra China, dan sastra Arab. Karya sastra sudah diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan apa hakekat sastra dan apa nilai dan makna sastra. Karya sastra berbeda dengan karangan-karangan yang lain. Ia berbeda dengan buku-buku sejarah, walaupun kadang-kadang di dalam karya sastra terkandung pula kebenaran-kebenaran yang bersifat sejarah. Ia tidak sama dengan buku matematika, walaupun kadang-kadang di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran yang logis. Ia juga tidak sama dengan buku-buku ilmu bumi, walaupun tidak jarang karya sastra yang mengambil lokasi daerah atau kota-kota yang dapat dijumpai di dalam peta. Karya sastra tidak dapat pula disamakan dengan buku-buku pelajaran agama, meskipun banyak karya sastra yang menampilkan nilai-nilai pendidikan moral yang berkualitas keagamaan. Karya sastra adalah filsafat. Karya sastra memiliki dunia sendiri. Ia merupakan pangejawantahan kehidupan hasil pengamatan sastrawan atas kehidupan sekitar dan dirinya sendiri. Seorang kreator memiliki kepekaan menangkap gejala sekitar. Sang kawi, mpu, pujangga, penyair/sastrawan yang dalam perkembangannya dijuluki pula novelis,cerpenis memiliki tugas menangkap suara (jeritan, ratapan, kebahagiaan) alam dan alam sekitarnya. Sastrawan ibarat lautan yang bersifat kamot lan momot secara harfiah berarti mampu ‘menampung’. Selain dengan banyak belajar (empiris; membaca, melihat, mengamati), seorang sastrawan seyogyanya selalu mengolah kepekaan intuisi (rasa) dengan tujuan agar lebih tanggap dan peka.
Kethoprak Mahasiswa dengan judul “Mardhika Jawa Dwipa”
Ketoprak (bahasa Jawa: kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Dalam sebuah pentasan ketoprak, sandiwara yang diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan disajikan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata.
Menurut sejarah kethoprak lahir pada tahun 1887. Pada awalnya Ketoprak hanya berwujud permainan bagi para lelaki didesa sebagai hiburan sambil menabuh “lesung” (alat yang sebenarnya berfungsi sebagai alat/tempat untuk menumbuk gabah/padi supaya menjadi beras) pada saat bulan purnama. Hal ini sering juga disebut sebagai “gejog lesung”. Namun semakin lama ketoprak semakin digemari oleh banyak orang. Dan karena kebiasaan akhirnya ketoprak mampu dijadikan sebagai salah satu budaya masyarakat, dan bisa bersinergi dengan kesenian yang lainnyaDisebabkan pada awalnya hanya diiringi oleh alat ‘tetabuhan lesung’ ketoprak dulunya juga sering disebut “gejog lesung”. Seiring dengan keadaan berjalan selanjutnya ada tambahan alat musik lainnya seperti kendang, terbang dan suling. Pada tahun 1909 pertunjukan kethoprak sudah mulai berkembang seperti yang bisa kita saksikan sampai sekarang. Kethoprak mahasiswa diharap mampu mendedah, membedah, mengkaji, merekontruksi, menyajikan, dan ‘mendefinisikan ulang’ nilai-nilai yang terdapat dalam legenda-legenda lokal dalam cerita-ceritera kethoprak tobong.
Menurut sejarah kethoprak lahir pada tahun 1887. Pada awalnya Ketoprak hanya berwujud permainan bagi para lelaki didesa sebagai hiburan sambil menabuh “lesung” (alat yang sebenarnya berfungsi sebagai alat/tempat untuk menumbuk gabah/padi supaya menjadi beras) pada saat bulan purnama. Hal ini sering juga disebut sebagai “gejog lesung”. Namun semakin lama ketoprak semakin digemari oleh banyak orang. Dan karena kebiasaan akhirnya ketoprak mampu dijadikan sebagai salah satu budaya masyarakat, dan bisa bersinergi dengan kesenian yang lainnyaDisebabkan pada awalnya hanya diiringi oleh alat ‘tetabuhan lesung’ ketoprak dulunya juga sering disebut “gejog lesung”. Seiring dengan keadaan berjalan selanjutnya ada tambahan alat musik lainnya seperti kendang, terbang dan suling. Pada tahun 1909 pertunjukan kethoprak sudah mulai berkembang seperti yang bisa kita saksikan sampai sekarang. Kethoprak mahasiswa diharap mampu mendedah, membedah, mengkaji, merekontruksi, menyajikan, dan ‘mendefinisikan ulang’ nilai-nilai yang terdapat dalam legenda-legenda lokal dalam cerita-ceritera kethoprak tobong.
TARI KLASIK
Tari Klasik Definisi tari menurut Sudarsono adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis. Menurut Susan K. Lenger Tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk dapat dinikmati. Curt Sacha berpendapat bahwa Tari adalah gerak yang ritmis. Kamala Devi Chattopadhyaya mengatakan bahwa tari adalah suatu instinct atau desakan emosi didalam diri kita yang mendorong kita untuk mencari ekspresi pada tari. Tari klasik adalah tari yang mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi dan sudah ada sejak jaman feudal. Tari ini biasanya hidup dilikgkungan keraton.
Ciri-ciri tari klasik adalah :
1. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
2. Hidup dikalangan raja-raja
3. Adanya standarisasi
Contoh tari klasik adalah bedaya, srimpi, lawung ageng, lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S. Mariadi dan S. Ngaliman yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti : Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, Srikandi Bisma, dll.
Ciri-ciri tari klasik adalah :
1. Mengalami kristalisasi keindahan yang tinggi
2. Hidup dikalangan raja-raja
3. Adanya standarisasi
Contoh tari klasik adalah bedaya, srimpi, lawung ageng, lawung alit dan juga karya-karya empu tari baik empu tari gaya Yogyakarta dan empu tari gaya Surakarta seperti S. Mariadi dan S. Ngaliman yang sampai sekarang masih bisa dinikmati seperti : Gathotkaca Gandrung, Bondabaya, Bandayuda, Palguna-palgunadi, Retna Tinanding, Srikandi Bisma, dll.
MUSIK PERKUSI
Musik Perkusi Instrumen perkusi pada dasarnya merupakan benda apapun yang dapat menghasilkan suara baik karena dipukul, dikocok, digosok, diadukan, atau dengan cara apapun yang dapat membuat getaran pada benda tersebut. Istilah instrumen perkusi biasanya digunakan pada benda yang digunakan sebagai pengiring dalam suatu permainan musik Instrumen musik perkusi tidak hanya dimainkan sebagai pengiring/ritmis, melainkan pula sebagai melodi dan memainkan harmoni. Perkusi umum dianggap sebagai "tulang punggung", atau "jantung" dari sebuah pertunjukan musik, dalam permainan seringkali dikolaborasikan bersama instrumen bass. Pada musik jazz dan musik populer, bassis dan drummer seringkali dikelompokkan sebagai seksi ritmis.
Teatrikal “Pembangunan Candi Borobudur”
Candi Borobudur merupakan Candi Budha yang terletak di desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini dibangun oleh raja Samarattungga, salah satu raja kerajaan Mataran Kuna, keturunan Wangsa Syailendra yang mengagungkan Dewa Indra. Dalam Prasasti Karang Tengah disebutkan pendirian candi ini dengan tahun sangkala, rasa sagara kstidhara, tahun Caka 746/824 M. Arsitektur yang menciptakan candi ini menurut masyarakat bernama Gunadharma yang dibantu oleh guru dari Ghandadwipa bernama Kumaragacya dan Pangeran Kashmir, Visvawarman sebagai penasehat ahli ajaran Budhis Tantra Vajrayana. Nama Borobudur berasal dari kata Bara dari Bahasa Sansekerta yang berarti biara dan Budur dari kata Beduhur yang berarti di atas. Jadi Borobudur berarti biara diatas bukit. Dalam Prasasti Karang Tangah juga disebutkan nama Bhumisambhara Budhara yang berarti tempat pemujaan para nenek moyang kepada arwah-arwah leluhurnya. Candi Borobudur memiliki ciri khas tersendiri karena berbentuk punden berundaj yang terdiri dari 10 tingkat, tingkat 1 – 6 berbentuk bujur sangkar, tingkat 7 – 10 berbentuk lingkaran, dengan 1460 relief dan 504 stupa Budha dalam kompleksnya. Bentuk punden berundak ini melambangkan 10 tingkatan Budhasattva yang harus dilalui untuk memperoleh kesempurnaan hidup, yaitu: - Kamandhatu : Bagian dasar candi, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. - Ripadhatu : 4 tingkat diatasnya, melambangkan manusia sudah dapat melepaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat rupa dan bentuk. Patung Budha diletakkabn terbuka. - Arupadhatu : 3 tingkat diatasnya, melambangkan manusia sudah terbeas dari nafsu, bentuk dan rupa. Patung Budha diletakkan dalam stupa berlubang-lubang. - Arupa : Bagian tertinggi, melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam dalam stupa terbesar yang didalamnya terdapat patung yang disangkakan Budha. Bagai sebuah kitab, Borobudur yang sampai saay ini masih belum diketahui bagaimana cara pembuatannya, susunan batu, bagaimana cara mengangkat batus ampai diatas, apakah ukuran batu sudah sesuai dengan yang dikehendaki dan sebagainya telah diberikan rahasia dan kemisteriusan tersendiri bagi bangsa kita dan bahkan dunia. Jika dilihat dari atas, bentuk Candi Borobudur akan membentuk struktur mandala. Dan jika kenampakan kompleks candi diperluas lagi ke wilayah sekitarnya, maka akan terlihat sosok manusia dan Candi Borobudur tepat berada di jantungnya. Hal ini melambangkan disinilah jantung kehidupan, pusat pengajaran dan kehidupan masyarakat.
Tari Kuda Lumping
Tari Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian Kuda Lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan Kuda Lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling/ pecahan kaca dan kekebalan tubuh terhadap deraan cambuk. Kuda Lumping atau Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog.
Acara Yang Diselenggarakan
dapun bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan adalah:
1. Tari Kuda Lumping
2. Teatrikal Pembangunan Candi Borobudur
3. Tari Klasik
4. Musik Etnik
5. Kethoprak Mahasiswa dengan judul “Mardhika Jawa Dwipa”
6. Performance Sastra
7. Tradisional dolanan bocah
8. Jathilan
9. Pakeliran padat
dengan judul “Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)”
1. Tari Kuda Lumping
2. Teatrikal Pembangunan Candi Borobudur
3. Tari Klasik
4. Musik Etnik
5. Kethoprak Mahasiswa dengan judul “Mardhika Jawa Dwipa”
6. Performance Sastra
7. Tradisional dolanan bocah
8. Jathilan
9. Pakeliran padat
dengan judul “Jas Merah (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah)”
Senin, 27 September 2010
A. DASAR PEMIKIRAN
“…Jangan kau tinggalkan kepribadian asli budaya dan tradisimu (yang baik & relevan), jangan sampai kita lalai dengan ombak zaman – inilah budaya kita…”
Ki Nartosabdo
(Terjemahan syair “Aja Dipleroki”)
“…Kini kita tidak melihat lagi sesuatu yang akan bertumbuh lebih besar; sebaliknya, kita curiga bahwa segalanya akan terus merosot turun…”
F. Nietzsche
(The Genealogy of Morals, A Double Day Anchor Books, 1956 : 177)
Citra budaya timur -khususnya budaya Jawa- telah dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai budaya tinggi, adi luhung, dan halus, kini hanya tinggal wacana nostalgia. Sederet krisis multi dimensi yang berkepanjangan berujung pada teror kepercayaan terhadap kekuatan budaya sendiri. Hal ini dikarenakan tidak adanya “pengawalan budaya” yang bersifat akulturasi selektif terhadap budaya asing yang masuk. Tanpa ada kepedulian dan dukungan dari masyarakat, budaya menjadi lemah. Terkuburnya sebuah kebudayaan sama artinya dengan runtuhnya peradaban dan nilai.
Traditional Performing Art on Campus (TPAC) merupakan sebuah usaha penggalian daya cipta intelektual masa lalu yang masih relevan dengan perkembangan jaman. Event TPAC adalah wadah sebagai ruang gerak seni budaya dan kearifan lokal unggulan untuk memperkokoh jati diri Bangsa berdasarkan Pancasila yang saat ini dirasakan tenggelam dalam wacana kehidupan berbangsa.
Traditional Performing Art on Campus (TPAC) diharapkan mampu menjadi awal kedua yang baik untuk mengenalkan budaya asli Bangsa yang telah tenggelam oleh arus globalisasi kepada masyarakat luas pada umumnya dan masyarakat akademis pada khususnya. Diharapkan pula TPAC mampu mengembalikan pemahaman mental Bangsa kepada akar budaya Bangsa tanpa menafikan tema, pemikiran, selera, identitas, karya, dan cita rasa modern.
Disadari betul tidak semua masalah mampu dihadirkan dan diselesaikan pada tahap ini. Oleh karena itu TPAC bersifat berkelanjutan dengan tetap menjunjung tinggi harapan, semangat, nilai, dan cita-cita. Berdasar pemikiran “kebesaran suatu bangsa ditentukan oleh nilai-nilai budayanya”, TPAC akan mengangkat kembali lokal jenius dan local wisdom.
B. TUJUAN
Kegiatan TPAC ini bertujuan untuk :
1. Memberikan wadah dan ruang bagi penggalian kembali dan pengembangan budaya Jawa.
2. Sebagai ajang pertunjukan dan pementasan Budaya Jawa
3. Menggiatkan kecintaan kepada budaya Jawa dengan mengenalkan kepada generasi muda secara umum dan secara khusus kepada kalangan akademisi.
Langganan:
Postingan (Atom)


